The Art of Restructuring
Ada nasehat diskusi mendalam dari Pak Achmad Syamsudin Dirut Bank Sumsel Babel, yang kurang lebih sbb bahwa: “Hidup, lalu bisnis itu sebagaimana restrukturisasi keuangan. Cukup tegas saja. Jangan pernah takut kehilangan apa yang tidak lagi relevan. Fokuslah pada apa yang bisa diciptakan. Restrukturisasi keuangan bukan sekedar membangun kembali, tetapi mendesain ulang masa depan keuangan perusahaan yang lebih baik. Ini penting, karena terkadang untuk tumbuh lebih kuat, kita harus membongkar fondasi lama dan membangun kembali dengan yang lebih kokoh dan teruji berpengalaman”.
Tidak bisa dipungkiri, strategi restrukturisasi bisnis/ perusahaan adalah strategi terbaik transformasi bisnis komprehensif keorganisasian keuangan di manapun saat ini. Apalagi kalau pengen jadi banker, investor, trader, dan pebisnis legendaris, jalur mazhab-nya ya dari sini. Penting sekali kepiawaian integritas keuangan, profesionalitas, dan menjaga kehormatan. Makanya, krisis maha berat di perusahaan ya obatnya restrukturisasi. Krisis-krisis berat internal eksternal dengan “kondisi insolvent” ya proses penyelamatannya ya dengan restrukturisasi.
Memang seberapa ini penting? Sangat penting, karena modal dikeluarkan harus dijamin memberikan hasil yang ceto/ jelas. Jaminan hasil harus mawujud. Caranya? di lapangan kita harus melakukan evaluasi organisasi. Membersihkan dulu orang-orang dengan ciri khas korup, fraud, penyalahgunaan wewenang, manipulasi opini, merusak stabilitas organisasi. Bentuknya? Tindak tegas secara hukum bisnis. Memang restrukturisasi semenarik apa dan apa itu the art of restructuring sebagaimana judul tulisan ini? Restrukturisasi adalah salah satu tindakan korporasi yang dilakukan untuk mengubah aspek keuangan perusahaan dengan tujuan meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Restrukturisasi keuangan dapat dilakukan dengan cara: pengaturan target jatuh tempo, mengurangi ukuran perusahaan melalui penjualan aset, membentuk alternatif investasi dan pendanaan modal, pengaturan struktur modal, mengubah syarat-syarat utang, menyesuaikan utang dengan melakukan konsolidasi, mencari cara untuk melunasi pemegang obligasi, dan mengurangi biaya seperti gaji diubah menjadi komisi dibawah HPP untuk stimulan agresifitas penjualan. Sedangkan the art of restructuring adalah keberanian sikap menghadapi kenyataan krisis-krisis maha berat dengan kondisi keuangan “insolvent” akibat ulah oknum-oknum sdm korup, sistem korup, pelaporan yang fraud, sehingga harus ada proses penyelamatan radikal yang berani dengan restrukturisasi dan transformasi.
Karena kondisinya demikian diatas. Makanya, kunci awal melakukan restrukturisasi berimbang yang baik di perusahaan atau organisasi kita adalah kewenangan penuh memilih dan menentukan sendiri timnya. Trust nomor wahid! Tim dan orang-orang pilihan ini harus trusted, memiliki kemampuan mumpuni, track record teruji, motivasi tinggi, dan harus orang-orang terbaik di bidangnya. Karena berkat dukungan orang-orang terbaik inilah, perusahaan kedepan akan berhasil melakukan mega-merger maupun mega-likuidasi dengan tangan besinya. Dasar inilah penting memiliki tim keuangan teruji professional dan banker-banker pilihan.
Sebuah artikel bisnis pernah menyebutkan bahwa: "In a crisis, don’t hide behind anything or anybody. They’re going to find you anyway”. Pembelajaran ini memberikan dasar bahwa modal utama restrukturisasi adalah financial leadership karena banyak berkaitan dengan manusia dan anggaran ABC/ activity based costing-nya. Jika faktor keuangan manusia ini tidak dikelola dengan baik oleh seorang pemimpin, maka akan berpotensi menimbulkan kegaduhan. Toto Wolf, CEO Mercedes AMG Petronas pernah mengatakan bahwa: "A restructuring of an organization is always a difficult time and delicate”.
Karena penuh kesulitan dan tingkat kegagalan pada transformasi yang tinggi, bahkan mampu mencapai sebesar 70%-80%. Maka restrukturisasi tidak hanya merombak mereformasi level sdm dan merubahnya dengan yang baru, melainkan harus menyentuh aspek keuangan, restrukturisasi budaya, dan membutuhkan speed keputusan yang cepat. Restrukturisasi membutuhkan perubahan organisasi, baik melalui retrenchment, skenario asset dan struktur modal, rotasi dan promosi sdm, serta terkadang perlu melakukan recruitment talent baru untuk angin segar. Bahkan jika diperlukan ekstrim mengubah business model dengan cara-cara baru. Dasar inilah pentingnya kita membersihkan dahulu orang-orang buruk semacam diatas sebagai prioritas utama dalam pembenahan, lalu langkah kemudian diisi orang-orang baru terbaik di bidangnya sehingga tahan banting dalam semua jenis target.
Penutup. Jadikanlah hukum bisnis dan pengalaman-pengalaman restrukturisasi keuangan ini sebagai teropong sikap tegas, bahwa organisasi yang hebat adalah yang tegas secara hukum bisnis dan mampu bertransformasi dengan ukuran keuangan yang tepat, bisa beradaptasi dengan target, dan terus belajar menghadapi tantangan. Pahamilah bahwa kesulitan dalam perubahan adalah kesempatan untuk menciptakan solusi baru yang lebih baik.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar