Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat
Awalan santai dari saya, semua orang bisa menjadi orang hebat, asalkan jujur, punya niat dan tekad yang kuat untuk memulai. Sekali menipu, akan senantiasa menipu. Dan penipu tidak akan sekali jujur dan setia. Banyak mentor berjam terbang tinggi akhir2 ini yang menguatkan posisi saya untuk konsisten istiqomah. Pengalaman mereka pernah menyebutkan bahwa jangan pernah menipu orang lain, karena dalam bisnis dan kehidupan dari tahun 70-an 80-an 90-an, beliau ditipu oleh 4 perusahaan besar. Dan empat Perusahaan besar itu tutup. Sebuah Perusahaan dan kehidupan tidak akan bisa lama berlanjut lewat tipuan dan main tipu-tipu. Banyak yang pandai bicara, sayangnya tak pandai bertanggung jawab. Hukum bertindak? Tentu. Hukum harus tegas menjadi penjaga moralitas dan keadilan. Dan percayalah, gerombolan rampok dan penipu pasti akan tergilas dengan sistem alam dan sistem gugur alamiah akan menentukan jalannya sendiri. Teknologi baik buruk akan menentukan jalannya sendiri.
Kaitannya dengan CFO (Chief Financial Officer), memang apa saja yang dihadapi oleh beliau2 mentor CFO menghadapi maslaah krusial tsb? Ini yang paling krusial: “Harus Bisa Menjaga Profitabilitas Perusahaan”. Lalu adakah masalah lainnya yang turunan mendalam? Ada, antara lain: masalah transformasi bisnis itu sendiri, dan yang kedua adalah masalah menghadapi perang harga, beban biaya operasional harian, dan perang beban suku bunga lapangan.
Kalua urusan peluang dan potensi? Ada dua juga yang ditemukan kontras, yaitu kontrasnya: “antara Peluang dan Tekanan Biaya” yang tinggi. Butuh berevolusi signifikan.
Lalu dimana peran CFO? Bahkan CFO yang mampu menjadi strategist enabler bagiamana? Sebagai CFO sekarang ini, dinasehatkan belaiu2 bahwa pemimpin tidak boleh lagi sekedar berfokus pada pelaporan keuangan saja, akan tetapi ia harus mampu “turun gunung” berperan sebagai strategic enabler yang mengintegrasikan efisiensi operasional harian, dorong sales closing di lapangan, dorong growth pertumbuhan bisnis, dan penyesuaian tuntutan transformasi digital sekarang yang harus menyeluruh. Lalu Dimana CFO? Posisi “CFO harus hadir (membeli future value derngan harga present value)” dalam fungsi keuangan sejak tahap awal pengambilan keputusan hingga keputusan akhir itu. Dari urusan plan awal akhir, evaluasi, pengembangan inovasi, hingga dashboard progress KPI BSC harian rieltime.
Tuntutan landskap ini CFO harus hadir menjadi krusial. Budgeting tidak boleh lagi bersifat statis tahunan, yakni tidak boleh statis dengan cara mengikuti kondisi likuiditas, pertumbuhan kredit, dan penggerak cost of fund. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas tanpa kita kehilangan kendali. Sudah punya Solusi HPP sekaligus beban suku bunga dengan penetapan pricing yang rigid dengan melakukan periodic interest review yang dilakukan secara terstruktur terhadap produk saving, investing, kredit, dengan pertimbangan pergerakan pasar, kebutuhan likuiditas, dan “harus tepat target margin”. Dasar inilah setiap keputusan investasi saya harus memiliki korelasi langsung dengan efisiensi.
Penutupan dari saya, kalau dikasih kepercayaan itu ya harus dijaga baik-baik. Saat kepercayaan itu rusak, sebanyak apapun kata maaf tetap susah buat kembali seperti semula. Seperti gelas yang pecah, walau ditambali sebanyak mungkin dengan berbagai plester apapun, tetap tidak bisa berfungsi seperti sedia kala. Jagalah trust kepercayaan orang, karena Ketika kita menjaga kepercayaan, kita sedang membangun pondasi yang kokoh untuk “hubungan yang sehat” dan berkelanjutan. Kepercayaan adalah pondasi utama yang memperkuat ikatan tsb. Pesan untuk diri saya sendiri, ketegasan didampingi tim hukum dan pertajaman sikap transaksional yang perlu ditekankan agar skill tidak dipanen gratisan. Jangan terlalu terlalu toleransi ke orang lain sehingga diri sendiri dikorbankan. Jangan terang seperti lilin, lilin menyala untuk orang lain tapi membakar dirinya sendiri.
Tegas pantang berhenti belajar. Tau kenapa kita kalah? Mental. Tinggalkan yang perlu ditinggalkan, hilangkan yang perlu dihilangkan, "berani katakan tidak", bangun skala prioritas, fokus bukti konkret bukan narasi alasan adalah cara berhasil, adaptif, dan terpercaya. Melesatlah lebih tinggi, menyelamlah lebih dalam, jadilah hebat. Ingat, berprogress, bertahan, bertingkat, berlanjut. Mari menjadi "pasukan anti prei". Stay mletik mletik mletik kedepan dan terbang berkarya.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar