Akal Bulus Makelar Kasus

 

Perhatikan, langkah menyelamatkan perusahaan rawan jebakan korupsi. Perlu strategi jitu untuk menolong perusahaan yang kolaps. Perhatikan ucapan saya ini “Saat kamu menyampaikan kebenaran, maka akan ada 2 reaksi yang didapat: Pertama, orang yang cerdas akan merenung. Kedua, orang yang bodoh akan tersinggung”. Orang baik itu taat hukum dan taat audit karena itu akan membuat dia bertanggung jawab. Sedangkan orang jahat akan selalu mencari celah mencari cara untuk menghindari evaluasi, audit, dan hukum.  

Masalah hari ini apa? Tidak ada jaminan dana talangan untuk penyelamatan tidak terjerat dari jebakan korupsi. Apalagi aktornya para begundal perempuan dan laki2 si pembuat ulah itu. Jadi, kita harus berhati-hati dalam menjalankan rencana penyelamatan sebuah perusahaan, apalagi yang terjerat pailit. Opsi penyelamatan tidak bisa hanya komitmen restrukturisasi, skenario dana talangan, dan semacamnya. Baiknya itu dihindari dulu karena akan membenamkan pada konflik kepentingan, hingga korupsi jilid 2. Ingat ya, penyelamatan bukan proses yang sederhana, tidak bisa tiba-tiba mengucurkan dana talangan untuk next operasional. 

Apa jaminannya sukses? Pemberian dana talangan selain hanya menghambur-hamburkan uang, akan melupakan kasus Korupsi sebelumnya. Harus ada rencana jitu membersihkan, menagih dana peruntukan, minta print rekening koran agar laporan keuangan tidak bisa diakali/ data dimake-up, dan menyelesaikan kasus ini secara hukum di Kepolisian maupun Kejaksanaan kalau perlu. Semua usaha ambyar karena Direktur Utama salah urus. Ambruknya ini ya karena orang2 ini, utamanya Managing Director, Head Sales & Marketing, Social Media Manager, dan HR/ Human Resource Manager.

Ingat ya, perusahaan berikut yang katanya anak2 perusahaan walau sudah divonis pailit. Itu lebih ke lalai pengelolaan dan lalai memenuhi kewajiban kepada stakeholder. Gugatan perlu dibatalkan supaya membatalkan perdamaian sehingga skema pembayaran utang Direktur Utama harus segera dilaksanakan. Ini harus menjadi upaya keras. Hal ini penting untuk mengembalikan keadaan pada kondisi sediakala. Hmm sebetulnya bisa menjembatani masuknya pemodal atau investor baru sebagai upaya lain. Tapi masalahnya, utilisasi dana operasional sudah mencapai lebih dari 80% dan pasar yang diserap terbukti galtot- gagal total, dan selalu bias laporan sehingga dipastikan customer-nya gak ceto2 sampai sekarang. Janjinya pasar akan diglontorkan dari berbagai luar negeri, sudah meeting ini itu dan katanya mereka siap jadi customer, realisasinya nol-dhobos ngapusi. Tidak lebih hanya "praktik PR/public relationship bukan praktik sales closing", iki jenenge podowae dhobos. Ternyata saat customer confirm ditanyai tidak ada itu janji jadi customer semacamnya, dan malah upaya pasar hanya sebatas lokalan dan dari jaringan2 kite2 sini saja. Jaringan yang ia janjikan, nol putul gak jelas hasil dan bentukannya. 

Namun yang lebih penting dari itu, ciptakan dulu ekosistem industri yang suportif, adaptif, dan real ada growth closing market yang signifikan. Mau minta model apapun, kalau gak bisa menciptakan closing pasar, ya sama saja bohong. Mung dhobos tok.  

Penutup dari saya, ingat hukum ini ya bahwa pembohong itu selalu akan dipenjara oleh kebohongannya sendiri. Jadi bohong akan terus dilakukan kecuali dihentikan. Orang yang jujur akan menikmati kemerdekaan dalam hidupnya, jujur membawa keberkahan dan kemudahan. Semoga hari kita selalu indah dan diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa di dunia maupun di akhirat. Amin.



Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi, 

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan dilindungi hak cipta!


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors