Korupsi Wakil Tuhan, Saatnya Berbenah untuk Menenggelamkan


Fake project? Fake project ndasmu! Setiap yang menanam ia akan memanen, tunggu waktu saja. Senapan sudah dibidik, tinggal ditembak dari segala arah. Seumpama ikan busuk yang dimulai dari kepala, maka korupsi dan penyalahgunaan wewenang tidak bisa dilepaskan dari lemahnya ketegasan dan pembiaran. Apa gunanya sudah digaji tinggi kalau hanya ndhobos tanpa bukti. Mengutip salah satu pesan Jend(Pol): “Segera selesaikan tugas hukum bisnis dengan kejujuran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam”.

Buku Sebastian Pompe menyebut “Runtuhnya institusi hukum jika kasus hukum tidak segera diselesaikan”. Pompe secara anonim mengutip seorang hakim tahun 1980-an yang menyampaikan bahwa makin banyak pembiaran kasus di pengadilan, maka makin sulit seorang hakim mempertahankan kejujurannya integritasnya. Studi Pompe ini semakin relevan ditengah situasi hukum bisnis yang menantang saat ini.

Kronologinya adalah: Tuntutan kenaikan gaji demi stimulus pencapaian target sales closing dan peberantasan korupsi, menyiratkan komitmen penegakan hak SDM. Nyatanya? Dimainkan sebagai fake project sekaligus ajang korupsi. Oke, lets see kita tegakkan hukum bisnis dimari. 

Kita menduga sebelumnya, bahwa hanya 1-2 orang ya itu orang pelakunya, tapi ternyata gunung es saja ini. Ada banyak yang terlibat dalam kasus ini. Ada yang bertugas mengatur keputusan dari satu sisi, ada yang coba mempengaruhi obyektivitas investor, ada yang coba2 cek ombak kasasi perkara, ada yang bertugas manipulasi psikologis dari sisi yang lain. Lalu tanggung jawab Penjualan? Jelas nol kosong. Ini tak lebih "Sindikat Rente" yang cepat lambat segera dibasmi, masukkan nama diblacklist databased jaringan strategis. Segera dilaksanakan sebelum maupun dimanapun mereka sudah berpindah. Monitor terus sinyal dan radarnya. 

Kita semakin dibuat tertegun dan kaget, karena aktivitas mereka dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya sudah berlangsng lama. Ini hanya semacam kalender aktivitas kasus berulang saja. Ia sudah berperan mengatur perkara di sejumlah historis perusahaan-perusahaan yang didiaminya sebelum-sebelumnya ini. Cased hukumnya jelas, penyalahgunaan wewenang, budgeting dan realisasi yang tidak ceto, manipulasi data, dan penggelapan. Tidak tanggung-tanggung, uang yang dikerjainya ya yang saat ini ia nikmati untuk membeli sesuatu dan liburan kesana kemari atas nama kantor. 

Apa yang harus dilakukan? Peristiwa memalukan ini bukan kali pertama, sehingga harus distop, dijagal segera. Apa jadinya salah satu narasumber bukti membeberkan bukti hukumnya dg jujur, bisa diaudit forensik, dan bisa dites uji materiel? Akan berapa banyak jadinya korban. Bobrok reputasinya akan makin terkuak tak bisa diobati. Ini merupakan momen yang tepat untuk bersih-bersih dan berbenah. Komitmen berbenah harus diikuti oleh semua kelompok hukum bahkan kepolisian. Agar janji tidak bisa mentolelir praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenanng ini bisa terwujud. 

Pemberantasan ini merupakan program mulia agar next generasi bangsa bisa berkualitas. Jadi melewati masa pekerjaan dengan cara yang benar, administratif yang benar, keuangan yang benar, dan olah tata manajerial yang benar. Dengan cara ini, kita akan punya integritas, profesionalitas, disiplin, dan rekam jejak yang baik. Bukan mendiamkan fasilitasi kinerja tidak teruji. Ini penting, karena jika semangat berbenah tidak lahir dan diwujudkan dari keinginan luhur. Lalu dari mana lagi akan dilakukan pembenahan? “Kapal Indonesia” akan menyeberang laut yang luas, tidak hanya mencapai Indonesia Emas 2045. Kasus bagian-bagian dari kapal Indonesia Emas ini harus dibenahi dan dibereskan, agar tidak jadi “panu aib pembangunan” di kemudian hari. 


Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi,

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 

Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors