Tridharma Inovasi Sekolah Tangguh Bencana Rumah Ajisaka

 


Saya percaya, setiap perubahan besar bahkan perubahan monumental itu sendiri akan bergerak diiringi dengan banyaknya ketidaknyaman dan kekurangan disana-sini, sehingga enjoy saja, terus maju, dan berprogress berlanjut saja. Semua hal itu tergantung di mindset dan mental. Reaktif bahkan serangan balik boleh juga? Tapi itu hanya akan jadi kepuasan semu. Lebih baik fokus karya lebih baik, konkret dan jelas hasilnya. Dalam case-case ttt, memang orang "pintar" di bisnis dan keuangan akan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis lainnya dengan berhasil karena ia punya banyak kemampuan dan peluang di genggamannya. Sedangkan orang "bodoh" mau tidak mau harus menuntaskan satu dulu wacana ekonominya yang tidak kunjung berhasil itu, ia akan kelihatan sangat sibuk, tak kunjung ada hasilnya hanya untuk menamatkan narasi yang ia janjikan. Jadi ini memang urusan mindset ya. Lebih baik bangun skala prioritas dan mulai berani katakan tidak.

Langsung masuk ke poin konkret lapangan. Bahwa wilayah pesisir Indonesia adalah zona rawan terjadi bencana gempa dan tsunami. Hasil riset ITB, BRIN, BMKG dan BNPB yang dipublikasikan di Scientific Report 2020 menunjukkan bahwa ada potensi gempa megathrust yang dapat mencapai magnitudo 8,9 dan memicu tsunami setinggi 20 meter. Titik masalahnya dimana? Masalahnya, masyarakat di Pesisir Pulau Jawa khususnya belum meiliki resiliensi untuk bertindak bahkan tahu solusi sebelum bencana benar-benar datang. Sehingga upaya penguatan masyarakat, pendidikan dan sosialisasinya sangat dibutuhkan sebagai bagian program pengabdian Tridharma perusahaan kami di lapangan.

Apakah ada solusi? Ada. Untuk mengurangi keresahan masyarakat terhadap bahaya tsb. Rumah Ajisaka sedang membuat Gugus Mitigasi dan Program Inovasi Sekolah Tangguh Bencana. Terkait dengan riset lebak selatan, para pakar kami sedang melakukan riset mendalam.

Kita harus membangun kesiapan masyarakat, bahkan kegiatan-kegiatan di lapangan pun sudah dipilih sebagai fokus utama solusi dan pilot project. Apalagi Visi Penanggulangan Bencana Tahun 2020-2044, berupa “mewujudkan Indonesia tangguh bencana untuk pembangunan berkelanjutan” yang perlu dilaksanakan. Saya melihat, Program Tridharma Inovasi Sekolah Tangguh Bencana Rumah Ajisaka menarik dan bahkan memungkinkan teknologi inovasi RISBA-nya dilaksanakan pada seluruh masyarakat, para kontraktor, maupun developer konstruksi properti di seluruh Indonesia dan dunia.

Di Tridharma ini apa salah satu programnya? Program utamanya pembuatan kerjasama sekolah SD NU, SMP, SMA, Univeristas atau Sekolah Tinggi NU perlu menjadi implementator Rumah Ajisaka RISBA, bahkan dikurikulumkan jadi KSTB (Kurikulum Sekolah Tangguh Bencana). Langkah ini sebagai penguatan kapasitas masyarakat sekaligus melatih ketrampilan pertolongan pertama untuk mengurangi kapasitas resiko bencana di lapangan. Kalau ide Desa Tangguh Bencana saya melihat sudah banyak di lapangan yang melaksanakan, kita perlu masuk ke level yang lebih spesifik lagi khususnya membangun kader-kader baru sadar bencana.

Lalu apakah sudah ada kolaborasi Rumah Ajisaka untuk ketangguhan jangka panjang? Ada. Malah pihak Sekolah bahkan Universitas yang berinisiatif langsung meminta membangun Gugus Mitigasi dan Program Inovasi Sekolah Tangguh Bencana Rumah Ajisaka RISBA. Tinggal kesepakatan dan membantu penyusunan SOP yang harus lulus uji melalui Table Top Simulation (TTS). TTS ini akan mencakup peran tim evakuasi, keamanan, kesehatan, logistik, diseminasi informasi, dan kesiapsiagaan, ditambah peran-peran lain seperti guru/ dosen, siswa, ketua OSIS, dst.

Apakah ada gladi simulasi? Harus ada dong, sistem itu memastikan kita ready 100% di lapangan. Sistem koordinasi antara unsur stakeholder sudah ditentukan bahkan simulasi saat bencana gempa dan tsunami terjadi. Saat simulasi dilakukan, pengkondisian unsur-unsur yang perlu disiapkan menjadi poin utama agar evakuasi terarah, terstruktur, efektif efisien, dan ada ukuran suksesnya. Poin yang penting diperhatikan adalah lokasi sekolah yang disetting menuju tempat evakuasi akhir.

Apakah ada peran penunjang untuk antusiasme belajar masyarakat? Ada, peran seni dalam edukasi teknologi kebencanaan. Persepsi dan pemahaman masyarakat tentang Teknologi Kebencanaan akan mudah menangkap dengan materi yang diperkaya Unsur Seni. Makanya memang tetap penting menghadapi bencana ini dengan Pendekatan Sains dan Seni.

Penutup. Tahukah anda apa artinya bencana alam? Itu tanda bahwa alam perlu dipelajari tepat secara Sains agar ada jawaban empiris untuk solusi social engineering masyarakat dan evaluasi terhadap perlakuan buruk manusia pada hak-hak ekologis alam. Karena manusia perlu mengingat tidak ada kejadian satupun di bumi ini melainkan atas kehendak-Nya.


Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi,

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors