Bisnis Asset Management, Fokus Lindungi Nilai Investasi
Saya belajar, ketika kita menolong orang lain, sebetulnya kita sedang menolong diri kita sendiri. Ganjaran kebaikan itu bukan urusan manusia, tetapi urusan kita dengan Tuhan Yang Maha Esa. Saya percaya, Tuhan mendesain sumber kekuatan kita salah satunya dari menolong orang lain.
Namun daripada itu, untuk membentuk mindset keuangan wajar yang sehat, memang harus dipahami bahwa menabung hanyalah bagian dari mempertahankan kekayaan holding saja, harus ada mindset meningkatkannya, kita harus berinvestasi.
Industri reksadana (mutual fund) membuat Ajisaka harus fokus pada instrument reksadana. Tentu, persepsi asset management tidak boleh over confidence dengan return, perlulah banyak membahas potensi investasi based profil resiko dan langkah tepat memitigasi resikonya. Artinya, kalau desain awal saya biasanya reksadana saham dapat porsi terbesar, kini portfolio pada reksadana fixed income dan reksadana terproteksi jadi portfolio utamanya. Jadi porsinya seperti ini: reksadana saham 25%, sekitar 50% untuk reksadana fixed income dan terproteksi, serta sebesar 15% di reksadana pasar uang, untuk sisanya masuk di pasar polis asuransi.
Dulu sebelum kesamplok banyak angin besar keuangan. Desain keuangan saya lebih ke gaya progresif, yaitu: reksadana saham sebesar 40%, lalu 10% untuk trading saham, 30% untuk reksadana fixed income, dan reksadana pasar uang dan asuransi 10% masing-masing. Sejauh ini, memang tujuan investasi sudah banyak yang tercapai. Namun, banyaknya masalah di pasar membuat fokus gaya melindungi aset investasi menjadi urgensi/ area concern yang sangat substansial (organ penting). Hilang investasi, hilang sudah pertahanan keuangan.
Yang ditawarkan di pasar sekarang memang lebih banyak obligasi korporasi, menunjukkan profil resiko hari ini tidak semengerikan dahulu (high risk). Jenis obligasi ini memang cukup tidak agresif (lebih stabil) sebagaimana obligasi Negara lain yang volatile. Untuk reksadana saham, saya lebih senang memilih model rekdasana dengan pengelolan pasif, yaitu di reksadana berbasis indeks. Ini bagi saya kinerjanya jauh cukup lebih stabil.
Sebetulnya, tentang format, formula atau skema cara apapun dalam proses investasi kita, itu subyektif tergantung kita. Artinya apa? Artinya dalam berinvestasi semua harus mengenal dulu profil diri masing-masing (konservatif, moderat, agresif), dan profil itu harus disesuaikan dengan time horizon. Ini membuat langkah dan proses serta tujuan investasi menjadi lebih realisitis.
Kedalaman pemahaman tentang instrument investasi (jenis profuk investasi), jelas itu harus paham. Kita tidak mungkin berinvestasi pada produk-produk yang tidak kita pahami mendalam. Harus ada riset dulu. Jangan memilih instrument karena melu-melu (ikut-ikutan), self assessment itu tetap paling utama.
Jangan batasi diri, namun ukur kemampuan. Bujukan orang tanpa pembobot kita yakin, lebih baik tidak saja. Saya fikir ini cukup mudah ya, mengingat informasi yang makin disclosure terbuka dan tidak terbatas. Pemilihan investasi pada platform investasi kredibel tidak kalah penting lagi itu. ini penting untuk menjaga aset investasi tetap aman. Pilih instrument investasi yang menunjukkan konsistensi kinerja yang baik.
Kalau menghadapi para pemain pemula, jelas kita harus memberikan tekanan agar dia belajar. Bikin dia terkejut, tapi tetap aman. Keputusan yang tepat dan persistence akan melahirkan cuan rasional, bahkan besar bagi holding keuangan ini. Dengan manajemen tata kelola SDM yang tepat, buat momen-momen analisis ini menyenangkan.
Memang untuk menjadi sukses, itu tidak selalu tentang menjadi orang pintar, tapi mereka-mereka yang mau membentuk pengalamannya dengan cermat, punya hitungan presisi yang cermat, dan terus mau gigih berjuang pantang menyerah. Bangun semangat optimisme!
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar