Bisnis Ajisaka Multifinance Property
Apa masalah yang kita hadapi, khususnya di Ajisaka Multifinance Property? Jelas masih banyak butuh kolaborasi, dukungan kebijakan yang tepat (policy izin regulator). Tujuannya satu, agar kita bisa berkembang sehat mengikuti perkembangan zaman dan realistis menghadapi kompetitor lainnya. Beberapa kasus yang kita temukan di lapangan, terlihat sejumlah entitas P2P (peer to peer) masih kagok/ angel membangun kolaborasi dalam suatu grup bisnis bahkan ekosistem. Walaupun strategi yang diusung jelas berbeda-beda ya, namun pada prinsipnya entitas ini harusnya bisa berbagi peran. Misal dengan resiko tinggi segmen yang sulit diraih konvensional, fast moving consumer good (FMCG) butuh pinjaman tanpa agunan perlu digitalisasi untuk mitigasi resiko. Agar punya dokumen databased grassroot memang paling enak membentuk limit pinjaman bagi FMCG untuk kebutuhan produktif, mirip layanan bayar tunda (payleter).
Kita belajar dari orang lain ya. Contoh studi kasus di lapangan yang menggunakan teknologi keuangan ini yang harus kita ambil pelajarannya, yaitu: Traveloka, Akulaku, Kredivo, Carro. Baru-baru ini yang lagi rame adalah Xendit (PT. Sinar Digital Terdepan) lewat Xendit Pte. Ltd akan mencaplok perusahaan keuangan hasil merger PT. Globalindo Multi Finance dan PT. Emas Persada Finance. Xendit terlihat sekali ingin menjadi market leader disini, dia tergolong unicorn sejak 2021 dengan izin Bank Indnesia sejak November 2019. Xendit terlihat mengincar pemilikan saham di Bank Sampoerna (PT. Bank Sahabat Sampoerna).
Xendit kuat karena bervaluasi lebih dari US$1 milliar, tepatnya setelah mendapatkan putaran modal beruntun di 2021, yaitu Seri B senilai US$64,6 juta di Semester I/2021 dan Seri C senilai US$150 juta di kisaran bulan September 2021.
Lalu apa pelajaran Xendit bagi kita? Aksi korporasi Ajisaka Multifinance Property (AMP) harus jeli melihat keadaan bidang properti dan tetap bisa mengambil peluang yang ada. Langkah Ajisaka ke bidang keuangan properti apakah mudah? Langkah ini tentu bukanlah hal gampang, aksi korporasi ini merupakan langkah revoluioner yang besar, namun yang utama adalah harus harus aman, certified, terpercaya, masuk akal, dan beragam skema pembiayaan lebih kreatif dengan segmen-segmen debitur yang lebih beragam.
Agar tidak gegabah, memang Ajisaka Multifinance Property harus merangkul dan koordinasi ketat dengan APPI, yaitu Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia. Tujuannya agar tahu rules dan batas aktivitas yang harus dikerjakan, jangan overlap. Jangan lupa juga merangkul Asparindo (Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia) agar bisa lebih mudah pemetaan pelaku pasar di lapangan.
Bisnis pembiayaan properti mulai menarik saat fenomena teknologi masuk meminta izin lisensi multifinance skema berbayar tunda untuk penyelenggaraan aktivitas pembiayaan keuangan bisnis, proyek dan lainnya. Mitigasi resiko, ini langkah preventif yang tidak boleh berkurang.
Kalau saya pribadi lebih pro dengan leasing ya diandingkan skema pinjam modal (pinjol, dst), kalau pinjol kan lebih ke credit scoring bisnis dibangun kemitraan dan inovasi digital. Ini masyarakat mulai muak, karena banyak praktik kejahatan keuangan. Saya lebih pro leasing untuk bisnis produktif, jadi leasing yang kita miliki justru yang stand-by. Sehingga segmen ini para pedagang material konstruksi atau properti diluar sana punya kebutuhan kulakan mendadak terdorong momen ttt, bahkan bisa 2x lipat dari nilai belanja biasanya. Nah fasilitas limit kami ini yang bakal bermanfaat/ berguna untuk kondisi semacam ini. Dengan cara seperti ini diharapkan Ajisaka Multifinance Property bisa mencatatkan pertumbuhan penyaluran pinjaman signifikan dengan target diatas 5 triliun setiap tahunnya.
Saya setuju sudut pandang dari Dan Zarrela, bahwa marketing dan keuangan tanpa data konkret di lapangan itu seperti menyetir kendaraan dengan mata tertutup (is like driving with your eyes closed). Begitupun dalam mengolah produk dan pendapatan kita sehingga menjadi kontes perhatian seluruh masyarakat (contest for people’s attention), aspek strategi dan kecerdikan penting sekali dimainkan, mengingat perusahaan tekfin properti (technologi finansial properti) butuh kolaborasi, dan aksi dominasi pasar yang meyakinkan.
Industri yang sebelumnya tidak kompetitif menjadi lebih berkembang dan akhirnya mampu menyumbang tren positif bagi industri. Tingkat progresifitas ini menunjukkan bahwa fenomena industri multifinance leasing tanah air prospektif dan menggoda untuk para investor.
Saya melihat memang produk harus multifinance ke para debitur, pengusaha, calon konsumen harus akomodatif, aman dan meyakinkan. Contoh, harus ada fitur baru menyediakan layanan kemudahan konsumen berupa aplikasi tatap muka memudahkan seller dan buyer bertemu menerima dan mengirim pembayaran secara online, fitur paylater untuk pelanggan (pembiayaan bukan lagi hardcash tapi bisa akses langsung ekosistem, manfaatnya: mitigasi resiko lebih bagus karena brarti calon debitur bukan lagi orang luar yang belum dikenal, ini bagus untuk pendataan databased), dan transaksi keuangan digital payment (seperti Flips, Dana, ShoopePay, GoPay, layanan voucher, dst), layanan manajemen toko hingga operasional bisnis (seperti Shoope, Tokopedia, dst).
Penutup. Sebuah hal yang menarik, kondisi lapangan ini menjadi wajah-wajah baru dalam industri yang meyakinkan yang perlu diambil pelajaran dan aksi korporasinya oleh Ajisaka Multifinance Property. Ilustrasi saya, kalau dunia gelap dan berlubang, yakin saja esok pagi akan ada sinar matahari fajar yang mulai menerangi. Di luaran sana, banyak orang yang menunggu-nunggu kegagalan dan percaya dengan gagal kita, kalahkan mereka. Setiap orang sukses sebelumnya mereka bukan siapa-siapa, tetapi menolak untuk menyerahkan dan menolak untuk tidak progresif profesional terukur. Gagal itu hanya awal, bulatkan tekad dan bekerja keraslah tanpa kenal waktu, percayalah semua jerih payah akan ada bayarannya.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar