Deteksi Arah Bisnis Properti 2022-2024

 


Jika mau membicarakan peluang properti, bahwa peluang properti kedepan untuk sukses jelas terbuka lebar asalkan punya kemauan, usaha yang keras, serta kontribusi SDM ahli berdasarkan kepakaran. Tentu sebelum itu implementasi konkret properti harus dibuka dahulu dengan data dan hasil riset terapan impact based tidak hanya activity based. Dengan seperti itu akan sangat terbuka luas, tidak mbulet, namun berbasis efektivitas. Tinggal Anda mauya dari mana dan bentuk eksekusinya bagaimana.

Peran data dan hasil riset agar deteksi arah peluang bisnis properti terbaca penting untuk mempetakan langkah yang tepat. Saya membuka minimal dua hasil riset Colliers International (Colliers) dan Knight Frank Indonesia khususnya untuk kebutuhan tahun 2022-2024. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa ada sebanyak 280.505 meter persegi (m2) future supply dari tujuh proyek properti mall yang masuk ke pasar hingga tahun 2024. Artinya adanya sinyal positif sektor riel properti. 

Dalam kajian Jakarta Property Highlight 2022 dijabarkan juga bahwa ada optimisme sektor ritel properti 2022 akan kembali pulih. Linier juga dengan hasil riset oleh Asia Pacific Outlook Report 2022 yang mengatakan bahwa sektor ritel properti akan masuk dalam fase pulih lebih cepat (shorter-term bounce) dibandingkan sektor properti lainnya di situasi pasca pandemi Covid-19.

Paling masalah dan kendala yang cenderung ditemukan adalah harga sewa yang cenderung turun karena operasional mall bukannya naik malah turun. Apalagi ada beban tarif pajak PPN 11% naik dari 10%. Ini cukup menghambat pertumbuhan bisnis ritel properti kedepan. Ada alasannya? Ada. Alasannya pengusaha tidak akan mau ambil resiko, tarif kenaikan jelas akan dibebankan ke barang yang dijual, padahal sekarang kondisi daya beli masih belum pulih. 

Dari kondisi itu, apakah ada peluang atau potensi yang masih bisa diharapkan? Masih ada, antara lain yaitu: (a) Pemerintah masih banyak memberikan insentif, minimal jaminan vaksin Booster agar ekonomi aman, (b) Kuartal pertama, kunjungan dan transaksi rietl properti tinggi dan banyak pelonggaran yang diberikan oleh pemerintah akibat pandemic, (c) Riset Colliers (2022) menyebutkan bahwa rata-rata tingkat hunian masih under 70% selama 6 bulan terakhir. Walaupun seperti itu, kondisi masih diperkirakan membaik dengan alasan para penyewa di mall properti tsb masih percaya diri membuka toko dengan dasar optimism idul fitri. (d) Terakhir, harga sewa ruang Mall juga cenderung tidak mahal dengan alasan pengelola Mall tidak berani menaikkan harga karena para tenant agar tidak pindah. Diketahui, berdasarkan kelas tingkat hunian atas dan premium tercatat harga sewa Jakarta masih Rp 566.095 dan di Bodetabek Rp 384.121. Sedangkan biaya pemeliharaannya di harga Rp 149.168 di Jakarta dan Rp 116.594 di Bodetabek. 

Solusinya bagaimana agar optimisme dan laju pasar properti makin positif? Antara lain: (a) Sektor ritel properti tunjang dengan internet ekonomi (digital marketing & digital technology) dan patuh memberlakukan protokol kesehatan dengan penggunaan aplikasi Peduli Lindungi, (b) Perlu dipikirkan offline dan online dibat dalam satu kesatuan pasar. Tujuannya untuk mengundang pembeli aktif pasif dan menjadi bagian pengalaman baru dalam pemasaran closing (guaranted sales repetition) properti di Indonesia, (c). Terakhir, konsep Mall Properti sebagai pusat perbelanjaan terbuka diharapkan menjadi konsep Mall paling laris di Indonesia mulai tahun 2022 ini.

Penutup. Kondisi sekarang memanglah tidak gampang, namun percayalah kesuksesan datang dari tantangan masa sulit (prihatin), mau mencari solusi, rasa ingin tahu tinggi, dan ketekunan untuk kritik diri lebih baik dibandingkan sebelumnya. Karena semua tergantung sudut memandang, orang optimis akan melihat kesempatan di setiap kesulitan, sedangkan orang pesimis hanya akan melihat kesulitan di semua kesempatan.



Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi,

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan dilindungi hak cipta!





Komentar

  1. Ky e itu perlu di perjelas per bulan atau per hari. Okkee siiiihh.. Kebutuhan hunian masih tinggi untuk negara berkembang seperti di Indonesia. Mekanisme manajemen property perlu berhati2 dalam hal ini. Kebutuhan property tinggi tapi harga atau nilai hunian rendah karena kurang nya pembiayaan untuk pembelian property itu sendiri.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors