Peta SWF Untuk Projek Strategis Pemerintah

 


PR pembangunan memang berat, entah dalam SDM-nya maupun infrastrukturnya. Setidaknya, kita harus jeli dalam revolusi pembangunan agar pembangunan tidak memperparah kemiskinan.

Tulisan ini tidak mengkritik, hanya mulai mencari peta-peta pembangunan yang jelas yang betul-betul diinginkan oleh pemerintah, namun relevan bagi para pelaku bisnisnya.

Terkait tentang adanya SWF, tentu jadi angin segar. Dan dimanapun bisnis saya yakin tidak ada mau cari rugi. Keberadaan SWF gak mungkin mengambil proyek-proyek yang belum teruji dan tidak ada pihak penjaminnya. Makanya, SWF jelas disini minta penjaminnya pemerintah agar bisnis dan investasi aman. Hal ini dilakukan demi minimalisir fraud dan gagal. Ya anggap saja, sama-sama cari win2 solution lah.

Memang apa to potensi yang bisa kita lihat dari SWF ini? Secara praktik lapangan, sejauh ini saya melihat SWF tidak mengaliri dana ke seluruh sektor bisnis ya. Hanya fokus pada sektor infrastruktur utama seperti jalan tol, pelabuhan dan bandar udara. Kenapa? 3 sektor ini katanya yg digadang-gadang pemerintah paling bisa mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Disamping, saya melihat pembangunan infrastruktur py makna investing bagi kawan2 di Sektor Karya. Kok bisa? Karena akan berbentuk asset dan pasti akan digunakan di masa yang akan datang. Artinya? Tidak akan rugi, hanya masalah waktu. Percaya saja melakukan investing di pembangunan, jelas mempunyai efek berganda (multiplier) yang kuat.

Data eksisting menyebutkan dari total 24 ruas tol, ada sebanyak 8 ruas tol berasal dari Waskita Karya, 12 ruas tol dari Jasa Marga, 4 ruas tol milik Hutama Karya. Sehingga total asset tercatat dari jalan tol ini adalah senilai Rp171,4 triliun dengan jumlah ekuitas terkumpul sebesar Rp36,8 triliun.


Untuk potensi yang lain, saya lebih melihat kepada harapan2, bahwa kerjasama INA (Indonesian Investment Authority/ INA/ SWF) semoga bisa diperluas ke sektor kesehatan, infrastruktur digital, energi terbarukan, konsumer, teknologi, pariwisata dan mengarah ke sektor kreatif lainnya.

Lalu peluang kita apa? Apa yang harus dilakukan? Kalau dari sisi peluang, peluang yang bisa dilihat adalah enaknya kita di sektor infrastruktur yang jadi skala prioritas pemerintah (SWF) saat ini. Kondisinya deal 100% masih dipegang Karya.

Apakah akan tetap seperti itu? tidak. Berjalannya waktu jelas ini akan mengarah pada sektor healthcare hingga ESG (environmental, social and governance), termasuk panas bumi. Saat ini, faktanya memang pemerintah mau memfokuskan ke daftar projek2 dg aset jumbo yang mayoritas ada di infrastruktur.

Lalu strategi apa yang bisa diambil dari ini? Saya melihat strategi yang bisa diambil adalah asset recycle (divestasi). Ini jalan paling diharapkan sekaligus harapan akhir hampir semua pelaku toll road company.

Asset recycle (divestasi) yang dilakukan Waskita/ WSKT lebih ke harapan selesainya penugasan pembangunan jalan tol trans jawa Sumatra. Kalau asset recycle (divestasi) Jasa Marga/ JSMR lebih ke berharap semua 21 anak perusahaannya di asset recycle-kan. Waktu dekat ini 2-3 perusahaan pemegang konsesi jalan tol akan dilepas ke SWF dengan indikasi Rp1,5 sd Rp3 triliun.

Penutup. Wilayah pembangunan ini saya melihat sebetulnya lebih ke senang dan menyenangkan orang lain ya, banyak2 kasus ke IRR yg mepet-mepet dengan beban cost of capital. Jadi saya melihatnya lebih ke senang melihat orang senang karena bikin hidup lebih tenang, perduli menolong orang susah sehingga hidup penuh anugrah. 

Yaa, kita berharap adanya SWF bisa mempermudah pengembangan bisnis infrastruktur. Dan adanya SWF bisa jadi kebanggan baru BUMN dlm hal kapasitas baru keuangan demi kelancaran pendanaan di seluruh proyek infrastruktur di Indonesia.


Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan dilindungi hak cipta!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors