Peluang AjisakaPay dalam Belantikan Bisnis Payment, Financing Dan Investing Khusus Konteks Digital Banking Property di Indonesia
Saya melihat, dalam kondisi ini kata bijak pembuka yg tepat bagi Ajisaka adalah ketika kita takut tersesat melihat disitulah kita tidak akan melihat dan menemukan jalan baru.
Betul, tidak semua sektor terkena dampak buruk saat pandemi Covid-19. Keuangan dan perbankan salah satunya, karena traffic transaksi keuangan tetap berlangsung walaupun sektor riel terseok-seok.
Urusan alat pembayaran AjisakaPay saya melihat arah itu sebelumnya sudah ada, apalagi kebutuhan digital dipercepat oleh pandemi. Payment dan financing dengan perbankan mau tidak mau mempercepat layanan digitalnya.
Memang, menghadapi digitalisasi ini yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan adalah jejaring, jaringan dan modal. Tujuannya? Meningkatkan berbagai layanan pendukung.
Bentuknya apa? Mobile banking, internet banking gateway dalam bentuk: (a) alat pembayaran konsumen (payment); (b) alat solusi pendanaan konsumen dg skema koleteral/ agunan gaji atau hanya py 50% dana pembangunan rumah (financing); (c) untuk investing levelnya membiayai projek2 di Indonesia bernilai minimal 20 milyar dg syarat semua dokumen lengkap dan bertemu langsung dg CEO-nya; (d) alat P2P/ pear to pear landing; dan (e) alat layanan digital banking dan asuransi.
Sedangkan saya melihat, konsumen2 properti kita di seluruh Indonesia dan dunia itu sebetulnya hanya mengikuti. Mengikuti kita. Selama layanan kita masuk akal, dan menjawab masalah dan kendala mereka, pasti mereka akan ngikut. Kita perlu mengedukasi market/ pasar dengan layanan digital banking properti yang tertata dg betul. Manfaat layanan, databased konsumen yang jelas/clear, mitra bisnis yg oke/ tepat, dan manfaat layanan banking properti yang betul2 riel manfaatnya.
Sebelum penutup. Kenapa harus digital yang dikuati? Saya melihat karna kebutuhan digitalisasi bank meningkat di tengah pandemic, ini didorong oleh kebutuhan masyarakat di properti (housing, property, construction & retail). Kita butuh sistem cashless menjawab demand/ keresahan pasar tanpa solusi saat ini.
Hasil riset Center of Reform on Economics (CORE) menyebutkan bahwa di tengah pandemi masyarakat dipaksa untuk lebih banyak menggunakan digital, pun juga dalam kebutuhan property masyarakat.
Saya melihat, kesempatan kecil kalau digarap dg tim yg tepat seringkali merupakan permulaan usaha yang besar.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi, MBA., CSA
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar