Melirik Pergerakan dan Perkembangan Waskita

 

Didalam masa pandemi ini, saya melihat orang/ posisi yang menang adalah posisi yang bisa bertahan, menyesuaian diri dan bisa bersabar dengan ukuran yang tepat. Kuncinya memang sabar optimis dan pilihan tetap tajam di aksi-aksi lapangannya. Kenapa harus susah-susah membangun optimisme dan persepsi optimis? Faktanya prestasi dan karya-karya terbaik di dunia diciptakan oleh orang yang optimis.

Untuk rencana projek Waskita tentang divestasi 4 ruas toll, saya melihat bisa disikapi optimis tercapai dan selesai. Dasarnya, projek divestasi toll 480km merupakan projek yang strategis dan perlu dilakukan agar Waskita agar bisa mengurangi beban utang karena ruas toll tidak lagi terkonsolidasi.

Memang berapa nilainya? Diperkirakan sebesar Rp10-11 triliun dengan perjanjian AJB saja. 

Lalu bagaimana skenario divestasinya? yakni ada tiga, (1) skenario tukar saham (share swap); (2) membuka tender dan menerima penawaran investor; (3) menggunakan instrument reksadana terbatas (RDPT) yang nilainya sebesar Rp550 milyar.

Progress saat ini bagaimana? ada dua. (1) sedang uji tuntas, dan (2) sedang uji valuasi. Terkait tentang uji valuasi ini, Waskita ingin sekali mengagendakan bisa masuk ke SWF (Souverange Wealth Fund) atau LPI (Lembaga Pengelola Investasi) dengan tujuan memudahkan memperoleh solusi pembiayaan. Jujur, adanya LPI atau SWF memudahkan swasta atau BUMN membangun infrastruktur. Dan SWF atau LPI ini adalah peluang bagi BUMN untuk bisa berkembang dengan baik.

Bagaimana solusi agar hasil nilai valuasinya tinggi? Yakni bisa gunakan skenario menjual toll dengan total nilai hingga Rp27 triliun (tidak lagi Rp10-11 triliun). Dengan cara, lakukan divestasi ke PELINDO lalu lakukan asset swap atau tukar aset dengan SMI, dan penjualan toll melalui SWF atau LPI.

Banyak peluang sebetulnya yang bisa dikelola dan dicapai. Fokus terus bekerja keras dengan cara bekerja cerdas. Karena bekerja keras jelas itu dominan hanya fisik saja. Lakukan kerja cerdas karena bagian dari otak (inovasi dan intelektualitas), dan lakukan kerja ikhlas agar hati anda tidak terbebani dengan semua hal ini.


Salam,


Bahrul Fauzi Rosyidi

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan dilindungi hak cipta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors