Grup WIKA Tertekan Pandemi, Bagaimana Itu?
Kondisi
sekarang ini itu bagi saya harus tetap jalan, berprogress dan optimis. Walaupun
badan dan kaki menyerah, namun bergerak linier, spesifik dan berdampak sangat
perlu ditumbuhkan meningkatkan imun dan optimisme pasar.
Bandul
pemberat ekonomi (pandemic Covid-19) terbukti efektif menekan kondisi WIKA
tahun ini. Direktur WIKA menegaskan mending (lebih baik) kita mengambil posisi
hold (tahan dulu), sambil menyiapkan diri mengambil ancan-ancang memacu
realisasi kinerja untuk tahun 2021. Artinya yasudah diterima saja tahun ini
kita cenderung mengencangkan ikat pinggang.
Untuk
evaluasi, bahwa setidaknya kinerja tiga anak perusahaan Grup WIKA, yakni Wijaya
Karya (Persero), Wijaya Karya Beton, dan Wijaya Karya Bangunan Gedung pada
Januari ini hingga September 2020 tertekan dan mengalami penuh tekanan akibat
suasana pandemic. Konsekuensinya tahun ini keluarga BUMN ini labanya merosot
50% hingga 90% secara bertahap. Kinerja saham WIKA saja turun sebesar 39,45%
ytd, WTON turun sebesar 46,22% dan WEGE juga turun sebesar 41,50%.
Masing-masing parkir di harga saham Rp1.205 lalu Rp242 dan Rp179 per-lembar
sahamnya.
Ini
tergolong aman dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya, karena kemampuan
Grup WIKA untuk bertumbuh, Alhamdulillah masih didukung oleh kondisi keuangan
perusahaan yang sehat. Sehingga tahun 2020 ini cukup selamat.
Lalu apa kok
tadi disebutkan laba WIKA merosot hingga 90%? Betul. Laba WIKA secara tahunan
merosot hingga 96,29%, yakni dari Rp1,35 triliun menjadi hanya Rp50,19 miliar.
Tekanan yang
dialami WIKA ini rata dialami oleh seluruh tubuh anak perusahaannya, dari WIKA
Beton (WTON) dan WIKA Bangunan Gedung (WEGE). Sepanjang Januari s.d September
ini, pendapatan WIKA Beton turun dari 32,38% yoy menjadi hanya Rp2,95 triliun
dari Rp4,3 triliun.
Lalu
bagaimana solusinya? Solusinya tetap menurut saya semoga pandemic ini lekas
berakhir dan ada vaksinnya. Karena harapannya WIKA Group di tahun 2021 bisa
kembali tumbuh seperti tahun-tahun sebelumnya. Kalau kita mengamati data time
series WIKA, diketahui bahwa WIKA tercatat tumbuh pendapatannya sebesar 15,04%
(2016), lalu 67,06% (2017), lalu 19,03% (2018), dan baru akhirnya turun sebesar
12,66% yoy di tahun 2019 lalu. Saya tidak tahu, apakah 12,66% di tahun 2019 itu
adalah ancang-ancang akan terjadinya pandemic corona virus. Allahu alam
bissowab.
Dari sisi
progress tender proyek. WIKA saat ini sudah mengantongi kontrak baru sebesar
Rp6,84 triliun dan juga sedang mengikuti proses tender untuk projek-projek
nasional dan internasional dengan nilai Rp20 s.d Rp23 triliun. Tujuannya apa?
Tujuannya bahwa WIKA yakin bisa mencapai target kontrak baru di 2020 sebanyak
Rp21,37 triliun. Kondisi saat ini, demand order book (DOB) WIKA yang sudah
dicapai adalah Rp100 triliun, dan jumlah ini bisa WIKA produksi di tahun
mendatang.
Dari sisi
peluang, yang harus diperhatikan adalah: (a) Pertama. WIKA harus terus
berupayanya menyasar banyak projek, khususnya untuk projek fasilitas kesehatan
dan public. WIKA Beton khususnya harus melakukan langkah-langkah strategis
minimal menjaga kinerja dengan menerapkan program efisiensi biaya dan
maksimalisasi penjualan terhadap kontak-kontrak lama. Apalagi kontrak baru 2020
masih manageable dan perkiraan akan lebih banyak projek di kuartal IV/2020 akan
datang. (b) Kedua. Sektor konstruksi saat ini masih overweight, walaupun juga
mendapatkan angin positif (pengaruh positif) dari Omnibus Law yang mengatur
soal perumahan rakyat (rumah tipe basic dan premium), perizinan usaha
konstruksi dan pengadaan lahan (land bank). (c) Ketiga. Disamping WIKA sudah
punya DOB (demand order book) yang besar hingga Rp100 triliun, harus didukung
potensi pertumbuhan yang kuat dengan teknologi modular yang meyakinkan. Dan
yang pasti, dalam daftar projek DOB tsb tidak ada atau tidak banyak projek
turnkey.
Penutup. Tak
perduli sebagaimanapun kondisi gelapnya saat ini, kita harus memandang kedepan
dengan optimis, kita harus lihat semua kemungkinan (probabilitas), karena hasil
yang memuaskan selalu ada disana, menanti kita datang. Wes pokoke jangan putus
urat semangat dan optimis.
Salam,
Bahrul Fauzi
Rosyidi
Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan
dilindungi hak cipta!

Komentar
Posting Komentar