Era Disrupsi Perusahaan Ditantang Untuk Tetap Relevan


Faktanya, kita akan selalu menjadi orang yang tersisihkan manakala kita tidak menyiapkan diri berubah untuk sebuah lompatan dan membangun progress.

Kenapa demikian? Karena dunia ini sekarang tidak hanya berubah, tapi ada yang lebih worse, yaitu sedang menghadapi disrupsi. Di level kondisi ini, apapun bisa runtuh, termasuk keamanan Negara pun juga bisa runtuh. Atas hal ini, kita dituntut harus tanggap dan siap.

Perkembangan teknologi, internet dan digital sekarang ini sudah mengubah tatanan kehidupan. Bahkan sudah berdampak serius kepada bisnis. Makanya tidak sedikit perusahaan yang bangkrut tumbang tersisihkan, dan tidak sedikit juga perusahaan maju yang bertahan dan tetap relevan hingga sekarang. Kunci dari ini semua adalah adaptif dan lincah.

Masih ingat bisnis Taxi Bluebird kemaren? Kehadiran Taxi Online memukul pendapatan Bluebird dalam grafik turun yang sangat serius, dari sebesar Rp826,1 milyar tahun 2015 lalu menurun Rp500,8 milyar di 2016 dan menjadi Rp421,7 milyar di tahun 2017. Jika Bluebird tidak beradaptasi dan menyesuaikan diri, maka profit tahun 2018 akan turun. Dan alhamdulilah di tahun 2018 menaik sedikit menjadi Rp462,5 milyar.

Perusahaan lama lainnya yang tetap relevan yaitu Sritex. Sritex masih tetap bertahan dan malah terus berkembang. Catatan kinerja keuangan menunjukkan kinerja yang positif. Di semester I-2019, pertumbuhan pendapatan bersih Sritex sebesar 12,2% tahunan, jadi US$63,2juta. Kok bisa, bagaimana caranya? Inovasi dan pengembangan sumber daya manusia. Disamping berkat suksesnya menembus pasar Amerika Serikat dan Amerika Latin yang kontribusi penjualannya meningkat 3,2 kali lipat menjadi US$51,3juta. Semua jenis bisnis pasti terkena dampak, tapi semua akan kembali ke masalah mutu produk. Jadi, harus ada perbaikan kualitas produk dan adaptasi dengan perubahan terus menerus.

Untuk pasar retail, memang persaingan yang dirasa berat disamping teknologi dan digital adalah “perang harga”. Perang harga di harga termurah membuat margin bisnis semakin minus. Tidak semakin untung, kondisinya malah semakin membuat kronis nasib laporan keuangan. Solusinya? Makannya pelayanan terbaik menjadi pilihan selanjutnya yang wajib. Caranya? Mengubah business process yang sebelumnya lambat, menjadi efektif dan efisien.

Untuk memenangkan pasar disrupsi ini, tidak hanya kecepatan dan fleksibilitas mengadopsi teknologi. Akan tetapi juga kemampuan tim kita memahami arah dan perilaku konsumen serta paham dimana posisi kunci mempertahankan keseimbangan.

Dream big, and make it happen!

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors