Kesintalan Bisnis Digital, Teknologi, Dan Aplikasi. Lahan Bisnis Para Unicorn..
Kalau berbicara tentang teknologi, digital, dan semacam hal
tsb. Hal2 yang harus diperhatikan adalah kedepan kita harus
terus membuat inovasi dan keflesibelan, namun jangan terjebak dan menjadi konsumen addict
dalam hal tsb. Sehingga kita bisa bersepakat bahwa “…maybe technology makes things faster and more cost-effective, but it’s
not perfect. It must requires you to be as flexible as you can.” Jadi,
teknologi itu memang membuat segala hal yang kita lakukan bisa berjalan dengan
lebih cepat, efektif, dan efisien secara biaya. Namun percayalah pasti ada hal
yang tidak sempurna didalam pengerjaan tsb. Makanya control of human disitu sangat penting didalam intusi, pengendalian
moral, dan lain sejenisnya.
Kita sudah tidak bisa berbohong, bahwa perkembangan bisnis berbasis teknologi di dunia bahkan Indonesia sudah sangat pesat. Hingga seakan-akan perhari ini selalu ada saja bentuk inovasi dan perkembangan teknologi yang lahir dan yang hadir. Jika secara jejak korporatif, hal ini bisa ditandai dengan kelahirannya 4 perusahaan di Indonesia yang bervaluasi tinggi diatas US$1milliar. Siapa saja itu? Antara lain Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.
Kita sudah tidak bisa berbohong, bahwa perkembangan bisnis berbasis teknologi di dunia bahkan Indonesia sudah sangat pesat. Hingga seakan-akan perhari ini selalu ada saja bentuk inovasi dan perkembangan teknologi yang lahir dan yang hadir. Jika secara jejak korporatif, hal ini bisa ditandai dengan kelahirannya 4 perusahaan di Indonesia yang bervaluasi tinggi diatas US$1milliar. Siapa saja itu? Antara lain Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.
Saya fikir ini semua ujung sebabnya di gaya hidup ya. Gaya hiduplah
ujung tombak dan parameter utama lahirnya bisnis2 berbagai teknologi, digital,
dan aplikasi yang ada di Tanah Air. Ditambah lagi dengan penetrasi pasar yang
besar2an di sektor tsb, ini semakin membuat pasar ini semakin bergeliat. Perubahan
gaya hidup ini mendorong kelahiran bisnis berbagai aplikasi di Tanah Air dan
menciptakan perusahaan2 digital bervaluasi miliaran dolar yang biasanya disebut
unicorn.
Lalu apa yang saya lihat sebagai masalah disini? Sebagai pengusaha
lokal, hal yang saya lihat sebagai masalah disini adalah: (a) banyaknya
sejumlah aplikasi medsos luar negeri seperti Facebook, WhatApp, dan Instagram
yang mendominasi posisi paling atas dalam kategori penguasaan pasar di
Indonesia, walaupun kondisi mereka juga unggul di negara2 lainnya selain
Indonesia, tapi saya fikir, ini harus bisa menjadi kritik; (b) tingginya
perusahaan luar negeri yang tidak punya izin akses di Indonesia, ya minimal
kantor operasionalnya harus ada di Indonesia dong. Dia dapat pendapatan dari
Indonesia, tapi kok gak mau bayar pajak di Indonesia? Ini kan kejahatan.
Memang apa peluang dan potensi kita sekarang? Potensi dan peluang
kita sekarang adalah (a) Google dan Temasek mencatat, bahwa arus kas atau cashfloe yang mengalir ke berbagai perusahaan
rintisan di Asean sejak 2016-2018 sudah mencapai US$24milliar. Sebagian besar
pendanaan (financing) itu mengalir ke perusahaan rintisan di
Singapura. Sedangkan kucuran modal senilai US$6miliar dipastikan terserap di
berbagai perusahaan rintisan di Indonesia; (b) terus mengembangkan inovasi dan
pengembangan di bisnis digital, teknologi, dan aplikasi ini, karena dapat
mengurangi biaya jangka panjang, sehingga kita lebih irit; (c) faktanya, banyaknya
pelaku e-commerse yang mendorong inovasi
aplikasi ini ditambah, tujuannya agar dapat mengurangi biaya jangka panjang, jadi
tidak usah ngiklan. Dan ini saya fikir hal yang bagus; (d) hasil riset
menunjukkan bahwa orang Indonesia mengabiskan waktu untuk mengakses aplikasi mobile paling lama seduania. Riset App
Annie dengan judul The State of Mobile
2019 menunjukkan bahwa rata-rata penduduk Indonesia mengabiskan waktu
hingga 4 jam setiap harinya hanya untuk mengakses jaringan mobile.
Dengan semua potensi dan peluang ini, saya melihat sudah
barang jelas bahwa kita harus bisa menuntut diri lebih maju dan moderat
dibandingkan mereka. Didalam level kompetisi ini, biasanya kita kan sudah
bangga itu dengan hasil buatan kita (made
in by Indonesia, satu contoh). Sekarang dosis ini harus ditambah, “..pelan
tapi pasti, kita rubah mindset buatan
menuju rancangan kita."
Saya percaya, perjalanan intelektual ini akan terus berlanjut dan pastikan kita berada di posisi yang paling depan.
Salam,
Saya percaya, perjalanan intelektual ini akan terus berlanjut dan pastikan kita berada di posisi yang paling depan.
Salam,
Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tuisan Dilindungi Hak Cipta!

Komentar
Posting Komentar