Opini: Peer to Peer Lending, Apa Peluang Dan Resiko Bagi Bisnis Kita?


Yaa, teknologi adalah representasi mesin yang mampu setara dengan hasil kerja seribu bahkan ribuan manusia. Bahkan ada pakar teknologi yang mengatakan dulu kita membutuhkan 4000 tahun untuk berpindah dari penggunaan besi menjadi industri. Kita hanya memerlukan 40 tahun untuk berpindah ketahap computer. Dan kedepannya kita hanya memerlukan 4 tahun untuk menjadikan dunia ini berbeda dari sebelumnya. Dan pada akhirnya, setiap hari yang ada kita akan melihat teknologi yang berbeda-beda.

Fintech atau financial technology sudah berkembang sangat cepat di dunia ini, tak terkecuali di Indonesia. Yang menjadi menarik dimananya? Yang menjadi menarik adalah di “turunan layanan” yang dibuatnya. Turunan layanan tsb benar-benar mampu menyentuh berbagai kontribusi di aspek perekonomian, industri, moneter, politik, dan lain sebagianya. Pun didalam sektor financing atau pembiayaan.

Saat ini ada inovasi dibidang pembiayaan (financing) yaitu peer to peer lending. Apa itu peer to peer lending? Peer to peer lending adalah platform digital yang diterapkan oleh antar pihak untuk/didalam layanan pinjam meminjam uang yang berbasis teknologi. Sehingga dengan adanya fasilitas peer to peer lending ini memungkinkan mudahnya distribusi pemilik dana yang ingin menyediakan dananya untuk dipinjam oleh pelaku bisnis/usaha.

Proses pertemuan mereka inilah yang dijembatani oleh teknologi digital, dan proses ini disebut secara populer dengan sebutan peer to peer lending.

Apakah itu praktis? Yes! peer to peer lending sangat praktis, mudah dan cepat. Oleh karena itu, dengan perkembangan bisnis yang seperti ini memungkinkan peer to peer lending menjadi solusi bagi pelaku usaha yang ingin mendapatkan sumber alternatif pendanaan bagi usahanya.

Lantas apa peluangnya? Peluang manfaat bagi pemilik dana adalah adanya peluang imbal hasil/return yang jauh lebih tinggi dibandingkan suku bunga simpanan di bank. Peluang manfaat bagi peminjam? Yaitu ini menjadi kebalikan arah memang dibandingkan pemilik dana. Karena memang suku bunga yang harus dibayarkan ke pemilik dana cukup tinggi. Walaupun peminjam dana merasa kemudahan ini sebanding harganya dengan kecepatan likuiditas dana yang diperoleh.

Apa risk dan return-nya? Diapa-apakan kita harus realistis ya, business is business. Bisnis tetaplah bisnis. Selalu ada resiko dari peluang yang diambil. Resikonya apa? (a) resiko pinjaman macet; dan (b) bisnis yang berjalan tidak sesuai yang diinginkan/diharapkan sehingga peminjam susah mengembalikan dana pinjamannya/pinjaman macet. Antisipasinya bagaimana? (a) Yaa memang antisipasinya harus ketat pada seleksi para peminjamnya; (b) jumlah total pinjaman yang macet harus diantisipasi melalui pemberian return/imbal hasil yang tinggi; (c) perusaaan penyedia layanan lebih baik memilih bekerja sama dengan perusahaan penjaminan kredit; dan tentu bagi perusahaan kredit, layanan kerja sama ini menghasilkan produk dan pendapatan baru bagi mereka (sebagai tukang tagih pinjaman macet).

Peluang dan potensi bisnisnya? Bagi penyedia platform pinjam-meminjam, kerjasama ini meningkatkan citra usahanya dan mengurangi resiko yang harus ditanggung. Jika citra usaha meningkat maka semakin banyak pemilik dana yang akan menempatkan dananya di penyedia platform ini. Pemilik dana juga akan semakin percaya diri menempatkan dana mereka di usaha penyedia platform. Sebab, resiko macet seperti diambil alih oleh perusahaan penjamin.

Apakah anda memandang peer to peer lending ini peluang dan inovasi di bidang keuangan? Silahkan diputuskan dan dirembukkan masing-masing.

Apapun positif dan negatifnya pola teknologi peer to peer lending ini, nyatanya memang kita harus menyadari bahwa dunia dan masa depan bergerak itu adalah milik mereka yang menyiapkannya hari ini.

“The best way to predict the future is to create it”.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors