Pekerja Muda, Cedera Dan Kecelakaan


Bagi saya, tidak benar jika pekerja muda diidentikkan dengan lemahnya keterampilan, pengalaman, daya tawar terbatas sehingga pantasnya mereka dipekerjakan didalam level pemula dan harus bergaji rendah. Saya melihat ini adalah adalah mindset berpikir lama yang harus power contribution oriented, lebih kepada pekerja-pekerja kasar dan tidak mementingkan intelektual dan inovasi pekerjaan.

Didalam kerja cepat dan produktivitas hasil dengan pendekatan baru, pilihan trade-off ini terbukti pekerja muda lebih cepat beradaptasi dan lebih mudah ditreatment dalam hal ini.

Tapi ada benarnya juga hasil riset dari organisasi buruh internasional khususnya tentang K3 kita perhatikan, bahwa adanya fakta pekerja usia 15-24 tahun mengalami lebih dari 40% cedera kerja dibandingkan pekerja berusia diatas 24 tahun. Dasarnya apa? Dasarnya adalah pekerja muda yang cenderung suka berganti pekerjaan. Membuat fokus dan spesialisasi abilitas pekerja tentang k3 menjadi rendah (transfer knowledge rendah). Secara global, ada 541 juta pekerja muda berusia 15-24 tahun dan menyumbang 15% dari total angkatan kerja dunia. Mereka 40% mengalami cedera kerja non-fatal dibandingkan pekerja berusia diatas 24 tahun. Melihat fakta ini, saya fikir edukasi k3 perlu ditanamkan sejak dini agar pekerja muda paham bahaya dan resiko yang harus dihadapi khususnya di dunia industri.

Indonesia saat ini memiliki bonus demografi yang tinggi. Hampir setengah atau 60 juta dari 128,06 juta orang angkatan kerja Indonesia berusia dibawah 30 tahun. Dari jumlah 100% tsb, pekerja muda Indonesia mengambil porsi 20% untuk umur 15-24 tahun.

Agar kecelakaan dan cedera ini berkurang, saya melihat pemerintah harus turun tangan dengan membuat regulasi yang tegas akan hal ini. Disamping, pemerintah juga harus menyiapkan tenaga kerja terampil, kompeten, dan memiliki keahlian sehingga cepat beradaptasi. Apalagi jelas kemaren ada kasus kecelakaan kefatalan k3 di program 4.000 triliun infrastruktur pemerintah. Tentu ini harus jadi pelajaran dan perhatian yang serius.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan Dilindungi Hak Cipta!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors