Transformational Leader Harus Juga Realistis, Sebuah Pelajaran Cuit-Cuit Dari Pak Jonan


Kalau yang saya tangkap dari acara Pak Jonan tadi siang jam 13.00 adalah pemimpin penting punya tujuan. Tanpa tujuan, sasaran, dan rencana meraihnya, kita bakal seperti kapal yang berlayar di tengah lautan tanpa tujuan. Ngambang, tapi sampah. Lalu dimana letak nyali? Letak nyali adalah saat pencundang seperti kita memutuskan bangkit dan mencoba lagi dan lagi hingga sukses.

Sukses tentang tindakan, orang yang sukses ia akan selalu terus konsisten melangkah maju kedepan, sehingga saya sangat setuju bila Pak Jonan tadi mengatakan bahwa percaya tidak percaya, bahwa orang yang bisa (leluasa) memimpin saat ini (entah itu yang ada langsung didepan mata kita, atau yang kita amati dari jarak jauh karena memang dia hebat) itu dibangun berdasarkan 2 hal. Yaitu: (a) satu, 50% pasti dari pengalaman dia, entah itu sakit demi sakit yang akhirnya mengokohkan pribadi, jiwa dan mental ia; (b) dan yang kedua, adalah 50% sisa lainnya bakat. Bangku sekolah tetap penting ya, tapi supporting variable-nya hanya sekian persen jika tidak dipraktekkan. Kebanyakan ilmu bagus, tapi lek ra dilakoni yo podo wae. 

Hidup dan berbisnis itu harus hatinya ada disitu. Kalau hati kita ‘tidak hidup’ disitu, maka bisnis dan hidup kita akan tawar, pun dengan ukuran growth bisnis yang bakal kita lakukan juga akan ikut lambat dan melambat. Contohnya antara Exxon Mobile dan Facebook. Siapa yang tidak kenal kehebatan Exxon Mobile dengan nilai kapitalisasi pasar yang saat ini ia capai, bisnis ini hebat, tapi tidak adaptif dengan kehebatan pola baru saat ini. Terbukti, Facebook sebagai pendatang baru, ia datang dan market value-nya sudah mirip2 angkanya dengan Exxon Mobile. Artinya, sekelas Exxon Mobile saja, saat ini sudah menganggap Facebook atau bisnis berbasis teknologi dan informasi lainnya sebagai rival baru atau bahkan masa depan bisnis baru saat ini. Poinnya, disamping kita harus hatinya disitu, maka adaptabilitas pasar lainnya akan mudah dibau dan diidentifikasi. Kalau bahasanya Pak BM, we can feel of the data. Kita bisa merasakan seluruh grwoth dan isu2 apapun dalam dunia bisnis yang kita cintai tsb, sehingga kita dengan sangat mudah menyesuaikan diri dan berdiri sebagai pemenang (karena bisa lebih cepat, the fast eats the slow).

Biar artikel ini tidak berkepanjangan. Saya tutup dengan daftar substansi2 yang saya tangkap dari ruangan seminar tadi, yaitu: (a) a leader is someone who has followers; (b) kalau Anda tidak punya bakat, ya jalurnya pengalaman, kalau tidak punya dua-duanya ini, ya mlempem sudah, note: ilmu masuk dalam komposisi/bahan baku bakat; (c) popularity is not leadership, result are; (d) the only source of knowledge is experience - Albert Einstein; (e) the result is the most important; (f) pentingnya daya saing; (g) pentingnya konsistensi; (h) jangan menunda2 pekerjaan; (i) jembatannya adalah amanah. Kalau tidak amanah, hancurlah semua yang kita bangun sekarang secara susah payah; (j) pemimpin harus memberikan contoh, kalau cuma ngomong tok, itu jarkoni, ngajar gak nglakoni; (k) there is no substitude for hard work, Thomas Alfa Edision; (l) leadership is not rank, privilege, titles, or money, it is responsibility; (m) bisnis adalah tentang trust, dan saling memberikan kemudahan masing2 untuk tujuan nilai luhur yang baik; (n) ada beneranya juga melakukan transformasi harus bertahap, jangan membuat perubahan yang drastis agar berjalan baik dan lancar; (o) there is no substitue for hard work. Maturity is ofthen more absurd than youth and very frequently is most unjust to youth; (p) sesuai hasil riset oleh David Kahneman peraih nobel ekonomi psychologi tahun 2001, bahwa untuk bisa bekerja secara efektif kita harus berkumpul dengan orang2 yang cocok satu visi dengan kita, kecerdasan hanya masalah bahasan setelah itu; (q) visi harus mudah dipahami; jangan ribet. Visi harus memastikan mudah direalisasikan, boleh bermimpi tinggi2, tapi ati2 kesaplok helikopter, hehe, canda, artinya mimpi tinggi harus, namun dikomunikasikan ke bawahan kita harus secara pelan2 dan sedikit2, agar mereka tidak mencret, mereka tidak ketakutan dengan target yang diluar nalar; contohnya lari matathon 55 km, gak bakalan ada yang mau beragkat; tapi saat di infokan dikit2, eh malah semua orang mau lari ikut2an; nah itulah semua harus teruji dengan realisasi; (r) tidak bisa dan cukup hanya berteori, pemimpin harus ada pengalaman dan bakat; (s) jangan mudah dendaman; (t) establishing the sene of urgency; (u) forming a powerful guiding coalition; (v) creating a vision; (w) communicating the vision; (x) empowering the vision; (y) planning for and creating short-term wins; (z) consolidating improvements and producing more change; (aa) institutionalizing new approaches; (ab) ada banyak kata2 bagus dari Pak Jonan; (ac) kerja keras tidak bisa digantikan dengan apapun; kerja keras tidk pernah membohongi hasil; (ad) apapun memang, akan penting dan banyak maknanya saat kita membangun arah pikiran kita dengan jalur framework yang jelas; (ae) gelar hanyalah langkah awal untuk menjadi seorang pemimpin; (af) kepemimpinan selain bakat namun juga dapat dilatih dengan adanya pengalaman-pengalaman; (ag) sedikit bicara banyak berjuang, langsung bukti.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors