Memahami Rahasia Corporate Finance


Asumsi sifat manusia menurut saya bisa dikelompokkan berdasarkan 3 kelompok, yaitu: (1) self-interest, yaitu sifat manusia untuk mengutamakan kepentingan diri sendirinya; (2) bounded-rationality, yaitu sifat manusia yang memiliki keterbatasan rasionalitas; dan (3) risk aversion, yaitu sifat manusia yang lebih memilih mengelak dari resiko yang diberikan.

Dalam level keorganisasian (perusahaan, departemen, dan sejenis lainnya), fenomena perilaku orang atau organisasi bisa diidentifikasi berdasar 3 hal, yaitu (1) konflik sebagian tujuan antar pastisipan-nya, (2) faktor efisiensi sebagai suatu kriteria efektivitas, (3) yang terakhir, faktor adanya asimetri informasi (asymetric information) antara top management dengan agen.

Bahkan didalam ilmu mendasar keuangan sekalipun, variable moderator berupa informasi, kualitas dan kapasitas kita mampu/tidak mengkomunikasikan informasi tsb menjadi faktor penentu baik/buruknya prospek bisnis bagi perusahaan tersebut saat ini dan dimasa yang akan datang (market efficiency terhadap pengaruhnya pada book value dan intrinsic value-nya). Sehingga salah satu cara yang paling efisien adalah mengurangi terjadinya conflict of interest dan memastikan parameter kelolaan corporate finance berjalan obyektif, tidak tebang pilih, dan tegas!

Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan adalah kelolaan dan pemenejemenan keuangan perusahaan/organisasi dapat berjalan tepat sasaran dan baik dengan catatan kelolaan corporate finance dan memahami cara menggunakan tools corporate finance ini dengan baik dan benar.

Tujuan perusahaan (corporate objective) adalah (a) maksimisasi wealth atau kesejahteraan investor (maximization of shareholder’s wealth); (b) maksimisasi nilai perusahaan dengan pemaksimalan jumlah total free cashflow (FCF) dan peminimalan total biaya pada cost of capital perusahaan (maximization company’s value by maximization free cashflows and minimization cost of capital); (c) hati-hati dengan harga saham pada perusahaan tersebut (watch carefully: market price of company’s stock).

Tujuan dilakukannya keputusan perusahaan (corporate decision) adalah bermuara pada 9 hal paling penting keuangan, yaitu: (a) keputusan investasi dan projek; (b) keputusan pendanaan atau financing yang fokus pada bagaimana cara mendapatkan dan mengumpulkan dana; (c) keputusan distribusi pendapatan; (d) keputusan struktur modal; (e) keputusan corporate governance agar tidak ada konflik manajemen dan individu; (f) keputusan corporate payment kepada investor, diri sendiri, dan pemberi hutang; (g) keputusan analisis pasar; (h) keputusan merger, akuisisi, likuidasi, dan reorganisasi; (i) dan keputusan manajemen resiko.

Inti pengelolaan corporate finance kalau tidak melahirkan value of the firm ya sama saja. Cara melahirkan value of the firm (intrinsic value) adalah: (1) dengan memastikan cash in lebih tinggi dibandingkan total biaya operasional beserta total biaya investasinya fisiknya di tahun ke nol; (2) memastikan FCF positif dan lebih tinggi dibandingkan total income statement, dengan cara sales revenue – operating cash & taxes – requirement investment = free cashflow (FCF); (3) setelah FCF ditemukan, lalu kita harus mencari pertimbangan COC atau cost of capital dari kondisi eksisting pilihan/kombinasi struktur modal perusahaan saat ini; (4) kombinasi perhitungan FCF dibagi dengan COC akan melahirkan letak yang menjelaskan dimana intrinsic value perusahaan tsb berada (value = FCFn/(1+WACC)^n).

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menemukan FCF adalah: (a) harus sudah ditemukan berapa sales revenue-nya berapa; (b) berapa jumlah tanggungan operating cost-nya (raw material, labor, etc) dan beban pajak; (c) baru setelah itu, total temuan data diatas dikurangkan lagi dengan berapa total biaya pengadaan investasi fisik dan operasional pada tahun ke nol (tanah, gedung, mesin dan teknologi, inventory, peralatan lainnya, dan lain sebagainya).

Apabila tadi sudah menemukan jumlah pendapatan kotornya berapa, jumlah biaya operasionalnya (fixed and variable cost-nya) berapa, dan biaya investasinya berapa, sekarang kita dituntut untuk mengetahui dan harus tahu sebenarnya secara target perusahaan ada batasan return (%) terendah berapa yang harus dicapai oleh perusahaan agar perusahaan punya profit, punya nilai dan benefit perusahaan yang bagus, dan lain sebagainya? Yaitu dengan cara, kita harus menemukan berapa biaya WACC diakibatkan kondisi struktur modal saat ini. Mengapa? Karena sebelum kita membahas target return  perusahaan, kita harus sudah tau dulu berapa beban biayanya akibat kondisi modal saat ini. WACC adalah rata-rata kinerja target return yang diminta pemberi sumber dana/modal (entah sumber dana dari hutang, dari para investor, bahkan sumber dana dari diri sendiri/kita sendiri saat ini – ini dihitung sebagai opportunity cost).

Lalu apa saja yang harus dipertimbangkan dalam WACC? Yaitu: (a) capital structure (the firm’s relative amounts of debt and equity); (b) interest rates; (c) risk of the firm; (d) stock market investors’ overall attitude toward risk.

Lantas, dimana dan bagaimana kita bisa menentukan menemukan firms value perusahaan yang kita pertimbangkan saat ini? Caranya jumlahkan total future expected free cashflows perusahaan kita yang sudah dikonversi jumlah sesungguhnya dalam rupiah, lalau dibagi dengan WACC. Rumusnya bisa seperti ini: Value = FCF1/(1+WACC)^1+ FCF2/(1+WACC)^2+ FCFn/(1+WACC)^n.

Saya fikir cukup untuk penjelasan diatas. Kawan-kawan sekalian, didalam memotori perusahaan agar bisa hidup, ada 3 sumber modal yang bisa diperjuangan, yaitu dari hutang bank, investor, dan diri sendiri. Untuk sumber hutang bank, ada 10 sub sumber modal bank yang bisa kita gunakan, yaitu: (a) modal disetor, yaitu modal yang disetor oleh pemilik bank, sesuai dengan paraturan yang berlaku; (b) agio saham, yaitu kelebihan harga saham atas nilai nominal saham yang bersangkutan; (c) modal sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk modal dari donasi dari luar bank; (d) cadangan umum, yaitu cadangan yang diperoleh dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak; (e) cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang telah disisihkan untuk tujuan tertentu; (f) laba ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah diperhitungkan pajak dan telah diputuskan RUPS untuk tidak dibagikan; (g) laba tahun lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun lalu setelah diperhitungkan pajak; (h) rugi tahun lalu, yaitu kerugian yang telah diderita pada tahun lalu; (i) laba tahun berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak; dan (j) rugi tahun berjalan, yaitu rugi yang telah diderita daam tahun buku yang sedang berjalan.

Kalau sumber modal pelengkapnya apa saja? Modal pelengkap antara lain, yaitu: (a) cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali dari aktiva tetap yang dimiliki bank; (b) penyisihan penghapusan aktiva produktif, yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebankan laba rugi tahun berjalan dengan maksud untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya seluruh atau sebagian aktiva productif; (c) modal pinjaman, yaitu pinjaman yang didukung oleh warkat-warkat yang memiliki sifat seperti modal (maksimum 50% dari jumlah modal inti saat ini); dan (d) pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang telah memenuhi syarat seperti ada perjanjian tertulis antara bank dengan pemberi pinjaman, memperoleh persetujuan Bank Indonesia dan tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan perjanjian lainnya.

Corporate finance adalah metode kelolaan keuangan perusahaan atau organisasi dengan skema open management yang transparan dengan orientasi profit oriented. Hal-hal yang harus dipertimbangkan didalam corporate finance adalah topik kelolaan pada sisi sisi aktiva (asset) dan sisi pasivanya (liabilities dan equity). Sisi aktiva atau sisi aset ini membicarakan/fokus pada bagaimana kita mampu memformat perusahaan didalam kerangka investasi yang kredibel, progresif dan menyakinkan, sedangkan sisi pasiva atau sisi liabilitas dan equity ini membicarakan/fokus kita pada bagaimana mampu membuat perusahaan bisa mencari sumber pendanaan (financing) yang kemudian diinvestasikan (investment) kepada sisi aset/aktiva perusahaan atau organisasi atau departemen yang kita miliki saat ini.

Karena ruh dan nyawa corporate finance adalah mencari sumber pendanaan (financing) perusahaan dan bagaimana cara manajer keuangan atau CFO (chief financial officer, sebutan direktur keuangan kalau di Amerika Serikat) menginvestasikan (investment) hasil sumber pendanaan tersebut pada aset produktif yang menghasilkan return yang menjanjian/baik bagi perusahaan. Maka kita harus tahu bagaimana skema sebuah investasi tsb. Investasi (bidang keuangan) adalah berhubungan dengan keputusan pendanaan atau financing perusahaan, keputusan distribusi pendapatan perusahaan, struktur modal (capital structure format) perusahaan, corporate governance perusahaan, corporate payout perusahaananalisis pasar perusahaan, merger akuisisi likuidasi dan reorganisasi perusahaan, dan terakhir adalah berkaitan dengan keputusan manajemen resiko-nya pada perusahaan agar perusahaan menemukan dan memperoleh posisi strategis di pasar.

Allahu a'lam bissowab.

Salam,

Bahrul Fauzi Rosyidi,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Tulisan dilindungi hak cipta!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Era Spin-Off Dimulai

Menjadi CFO Sebagai Strategic Enabler Yang Hebat

About The Authors